Pengalaman Selama Liputan

       Pada hari Rabu tanggal 29 Mei 2013 Go circle yang terdiri dari saya sendiri Inggrid, Tata, Shinta, dan Kiki kami liputan ke Setu Babakan. Sebenarnya ada satu anggota lagi yang tidak ikut yaitu Ria dikarenakan sakit. Kami berangkat dari kampus sekitar pukul 11.00 siang. Kami benar-benar tidak tahu Setu Babakan itu ada dimana. Akhirnya kami Tanya-tanya kepada teman dan mereka hanya tau lewat ragunan.

        Akhirnya kita sepakat untuk melewati ragunan dulu setelah itu Tanya orang. Kami hanya membawa dua motor. Saya membonceng Tata, dan Kiki membonceng Shinta. Ketika melewati daerah Tb simatupang, Ternyata ada razia. Banyak sekali polisi. Saya dan Tata sudah sangat panik, Tata menyuruh Saya tetap jalan dan agak ngebut. Tapia apa boleh buat dua polisi memberhentikan kami.

        Saya sudah berpikir kalau bakal kena tilang Rp.50.000. Untung didompet ada Rp.100.000. Anehnya polisi itu menyuruh saya jalan. Yasudah Saya langsung ngebut dan sambil bertanya-tanya sendiri. Tata pun juga merasa bingung kenapa kami beruda disuruh jalan lagi padahal ada Seorang wanita yang kena tilang. Beruntungnya Kiki dan Shinta, mereka berjalan disamping taxy. Maka dari itu polisi tidak melihat mereka.

        Selama perjalanan ke setu babakan itu sangat melelahkan. Disamping macet, Saya memakai motor vario yang remnya sudah tidak pakem lagi. Jadi selama perjalanan saya mesti sangat berhati-hati karena saya membawa orang.

        Sesampainya di Setu Babakan, kami mencari-cari apa yang mau diliput. Kami ke tempat pembuatan dodol untuk rubrik video. Namun sayangnya proses pembuatan dodol sudah selesai. Akhirnya kami pergi ketempat lain. Kami ke tempat toko baju betawi. Sayangnya yang mempunyai toko tersebut sedang tidak dirumah.

        Kami sudah sangat putus asa, kami sempat berpikir percuma datang jauh-jauh tapi tidak membuahkan hasil. Tapi kami berempat tetap semangat dan berusaha. Akhirnya kami ke begian informasi dan bertanya kepada salah satu petugas disitu. Kami bertanya jadwal latihan pencak silat. Tapi semua latihan terjadwal hari minggu.

        Tidak mungkin kalau hari minggu kami pergi ke sini lagi karena deadlinenya saja hari jumat. Ini saja kami sudah telat mengirim tugas ke pak Hagi. Akhirnya kami sepakat untuk ke bawah yaitu ke setunya. Disana saya mengambil gambar untuk travel. Kami juga membeli kerak telor dan berkesempatan untuk mewawancarai si penjual.

        Kerak telor itu kami makan bersama. Sungguh merasakan kebersamaan. Memang sangat melelahkan tetapi kami semua sangat senang. Saya sempat merasa jengkel karena sudah terlalu lelah dan merasakan ditolaknya saat ingin wawancara dengan seseorang. Tetapi melihat teman-teman begitu bersemangat, semangat saya muncul kembali.

        Ada hal lucu ketika kami selesai makan mie ayam tiba-tiba hujan. Kami langsung numpang berteduh di salah satu warung yang ada disana. Ada seorang ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang bermesra-mesraan dipinggir danaunya. Ketika gerimis mereka tetap saja disitu dan tidak berteduh. Ketika hujannya lebat baru mereka lari ke salah satu warung hingga ada beberapa orang yang memerhatikan dan kami berempat tertawa terbahak-bahak.

        Kami berempat juga ketempat pembuatan bir pletok. Disana kiki dan shinta mewawancarai seorang lelaki yang sedang melakukan proses pembuatan bir tersebut.lelaki tersebut memang masih sangat muda. Ketika diwawancarai dia tampak malu-malu dan tidak melihat ke wajah kami. Ini adalah pengalaman selama liputan ke setu.

        Liputan ke empat saya bersama kiki dan temannya ke stallo steak di dekat kampus. Kami berencana meliput untuk rubrik video. Tetapi disana kami memesan makanan terlebih dahulu sebelum mewawancarai salah satu karyawan di sana. Ketika kami ingin mewawancarai, supervisor disana tidak mau karena beralasan malu. Salah satu pegawai lelaki disana ada yang bersedia tapi ingin diwawancarai oleh teman kiki yang bernama risca. Saya dan kiki hanya terdiam menahan tawa dan saling menatap.

        Akhirnya risca pun bersedia membantu. Tapi, ketika ingin memulai wawancara tersebut, pegawai itu malah tidak mau karena malu dengan risca. Akhirnya saya dan kiki berusaha membujuk pegawai yang lain agar mau diwawancarai. Akhirnya salah satu kasir wanita bersedia. Saya pun dan kiki merasa lega.

        Suka duka selama liputan adalah menambah pengalaman, menambah kebersamaan bersama teman. Duka nya adalah jenuh, lelah, banyak mengeluarkan uang hanya untuk satu liputan saja. Tetapi saya senang dengan mata kuliah jurnalistik online ini walaupun terkadang saya mengeluh. Saya merasakan banyak mendapat ilmu dari mata kuliah ini.

This entry was posted in behind the scene. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s